Wednesday, 13 June 2012

UJIAN SEBENTAR LAGI

Untuk kita saat ini yang sedang dalam menghadapi ujian-ujianNya,tetaplah tabah,sabar dan selalu bertawakkal, semoga kita mendapatkan berkah dan barokah dalam menghadapi ujianNya sehingga ladang amal kita senantiasa menjadi limpahan sumur ketaqwaan.

“Makan kuaci walaupun tidak mengenyangkan, tetapi biji demi biji kuaci habis dilahap juga walaupun sedikit yang kita makan,Sebenarnya disitulah letak nikmatnya untuk berusaha terus-menerus walaupun terkadang lama sekali nampaknya keberhasilan, dengan penuh keyakinan kita kepada Allah maka hasilnya akan menjadi nyata dan dapat dirasakan juga”(BENI SAPUTRA)

Setiap tapak hidup kita adalah ujian,ujian sebenarnya yg diuji adalah tingkat iman dan ketaqwaan kita,bila kita yakin dan sabar serta percaya bahwa Allah SWT akan memberikan hikmah dari setiap ujian maka kita akan menjadi orang yang beruntung.Ujian yg sesungguhnya adalah ujian AQIDAH. AQIDAH kita akan diuji oleh Allah SWT, seberapa kuat syetan akan menggoda atau seberapa besar hawa nafsu syetan bersemayam di hati kita. Jangan pernah korupsi atau berlaku curang dalam menempuh ujian, apalagi mengambil hak orang lain yang tidak lain adalah mencuri, jangan pernah memanjangkan leher kalian seperti Jerapah karena berusaha menjiplak karya orang lain( Plagiator ) atau istilahnya “Mencontek”.

Jangan Plagiat (Contek) berlakulah jujur (sumber: gema-nurani.com)
Hindarilah kebiasaan buruk yang selalu mengambil hak orang lain sementara kita tanpa berpikir panjang ikut menikmati karya-karyanya yang tidak tahu benar atau salah tanpa diselidiki kesahihannya. Kita diberikan akal dan hati nurani untuk selalu bertindak rasional, berpikir secara cerdas dan menimbang intuisi kita. Membangun keadilan dan kebenaran serta menanamkan kepada diri kita rasa percaya diri adalah keharusan yang perlu segera dilakukan,selalu yakin akan kemampuan diri sendiri sehingga menjadi pribadi yang mandiri yang tidak selalu bergantung kepada orang lain,Optimislah dan tinggalkanlah keragu-raguan(Subhat) yang sangat menyesatkan.

kita harus menjauhi sesuatu yang syubhat, karena siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka lambat laun ia pasti akan terjerembab perkara yang haram. Sebagaimana dikatakan , “Kemaksiatan adalah kurir kekufuran.” Di samping itu, memasuki area syubhat berarti menjerumuskan diri dalam sikap ragu-ragu, karena syubhat adalah sesuatu yang belum jelas halal atau haramnya. Dalam sebuah hadist, Nabi telah memerintahkan kita untuk meninggalkan sikap ragu – ragu. Beliau bersabda :
Tinggalkanlah apa yang meragukanmy kepada apa yang tidak meragukanmu” (HR.Tirmidzi)

Rasulullah SAW adalah suri tauladan dalam hal menjauhi barang syubhat. Beliau adalah pemimpin orang –orang wara’. Hal ini dapat dilihat dari sikap yang diambil Rasulullah erkenaan dengan sebutir kurma yang jatuh ketika beliau mendapatinya di rumah beliau sendiri. Dalam menyikapi masalah ini beliau bersabda,”Kalau saja aku tidak khawatir bahwa sebutir kurma ini berasal dari barang sedekah, tentu sudah aku makan”(HR. Bukhari dan Muslim)

Abu Bakar r.a. juga sosok yang patut kita teladani dalam sikap wara’. Suatu ketika ia pernah memakan makanan syubhat karena ketidaktahuannya. Maka, ketika mengetahuinya ia langsung memasukan tangannya ke dalam mulutnya hingga memuntahkan makanan itu. Lalu, ia berkata,”Seandainya untuk mengeluarkan makanan tersebut aku harus mengorbankan nyawaku, pasti akan aku tempuh.

Subhanallah,! Betapa besar semangat dan usaha Abu Bakar r.a. untuk menjaga perutnya agar tidak dimasuki barang syubhat. Jika Abu Bakar r.a saja selalu menjaga diri dari barang syubhat, padahal ia termasuk dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, apalagi kita?. Maka, kita semestinya memiliki tekad yang lebih besar untuk memelihara diri dari barang syubhat, apalagi haram. Lebih-lebih pada zama sekarang ini yang kebanyakan orang menyepelekan masalah ini.

Imam Nawawi juga termasuk sosok ulama yang wara’. Hal itu tercermin dalam sikapnya yang enggan memakan buah-buahan dari kota Yaman. Saat ditanya mengenai perbuatannya itu, ia menjawab, “Dahulu banyak tanah wakaf di kota Yaman, tapi sekarang tanah-tanah tersebut raib entah ke mana (bisa jadi diakui sebagai milik warga atau pemerintah). Maka, saya khawatir jangan-jangan buah – buahan itu tumbuh dari tanah-tanah wakaf tersebut yang hilang entah ke mana.” Demikianlah Imam Nawawi yang enggan memasukan barang syubhat ke dalam lambungnya. Maka, tidaklah mengeherankan kalau beliau menjadi Imam besar.

Mari kita renungkan ayat2 berikut ini, dan kita persiapkan diri kita untuk menerima ujian2 kehidupan tersebut dengan sabar.Semoga Allah membimbing kita. aamiin.

[2:155] Dan sungguh akan Kami berikan ujian kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (AL BAQARAH (Sapi betina) ayat 155)

[2:214] Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (ujian) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.

[3:186] Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan

[5:48] Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,

[8:28] Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai ujian dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.

[21:35] Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai ujian (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.

[29:2] Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?

[29:3] Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.

[25:20] Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan kami jadikan sebahagian kamu ujian bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar?; dan adalah Tuhanmu maha Melihat.

[47:31] Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.

"Cukuplah Allah bagiku,tidak ada Tuhan selain dariNya. Hanya kepadaNya aku bertawakkal."[Surah At-Taubat ayat 129]

Suara hati Nurani
Sumber:http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2012/03/06/seri-cinere-mengajar-jujur-itu-hebat/

Sekali lagi bahwa jujur itu hebat, tetaplah niatkan ujian hanya untuk beribadah kepada Allah dalam mengharapkan ridhoNya,semoga Allah membalas dengan limpahan pahala di sisiNya,aamiin.

 Versi pdf download disini:
http://www.ziddu.com/download/19654065/UjianSebentarLagi.027.pdf.html




REFERENSI:
Al-Qur’an


Sunday, 3 June 2012

DA’WAH KAMPUS DALAM DIMENSI RUANG DAN WAKTU


Perjalanan da’wah dari masa ke masa menjadi perjalanan yang begitu indah untuk diselami dan ditapaki. Mencermati jejak – jejak da’wah kampus memang memberikan inspirasi tersendiri bagi Aktivis Da’wah Kampus ( ADK ) . Menilik da’wah kampus di UNSRI, dalam dua tahun belakangan ini menunjukkan suatu gerak yang sangat signifikan dan peran yang sangat penting dalam kemajuan Islam di kampus. Agenda da’wah yang membumikan Islam sebagai ideologi perlu ditanamkan dalam setiap lini kehidupan mahasiswa. Para ADK haruslah tajam dalam menganalisis gerak da’wah kampus saat ini. 

Apalagi UNSRI yang perannya didunia Internasional khususnya di ASEAN mempunyai arah gerak yang nyata melalui kerjasama UNSRI dengan perguruan tingggi di Thailand dan Negara ASEAN lainnya seperti pertukaran mahasiswa yang saling menimba ilmu dan pengenalan budaya memberikan ruang yang sangat luas kepada mahasiswa untuk mengembangkan potensinya. Ini perlu peran para ADK untuk membaca zaman mengembangkan pola da’wah yang digunakan, sehingga semua lini da’wah mampu digerakkan secara optimal.

Pada tahun 2011 – 2012 , perjalanan da’wah kampus UNSRI terdapat kemajuan dalam hal program gerak da’wah maupun dalam akselerasi kader yang menduduki peran strategis dan pengambilan kebijakan kampus. Misalnya menempatkan ADK tahun kedua atau semester empat untuk mengisi menjadi kader inti wajihah. Ini memang perlu adanya penjagaan khusus kepada kader itu sendiri yang menempati peran strategis karena tidak mudah membangun akselerasi da’wah untuk pertama kalinya. Butuh persiapan yang matang dan kekuatan pergerakan yang penuh dari para ADK.

Gerak da’wah melintasi seluruh penjuru dalam dimensi ruang dan waktu, ini memang benar. Da’wah mampu menembus gerak kepada dosen, guru besar dan mahasiswa. Hal yang terpenting dalam membawa ideologi Islam adalah dengan kekuatan iman, ilmu dan prestasi sehingga da’wah mampu menembus ke wilayah – wilayah yang dahulunya sulit dijangkau menjadi mudah untuk dimasuki. 

Untuk bisa menjangkau geran dan peran da’wah dalam memasuki ruang dan waktu yang strategis perlu membangun rekruitmen pengkaderan yang kokoh, dengan banyaknya kader yang terjaring menjadi ADK maka peran untuk memasuki gerak da’wah akan menjadi semakin mudah, tinggal pemetaan kader yang perlu diperjelas misalnya membagi kader disetiap fakultas untuk dipetakan di setiap jurusan. 

Bisa diambil contoh misalnya fakultas FMIPA yang ada di UNSRI mempunyai enam jurusan yaitu matematika, fisika, biologi, kimia, kelautan dan farmasi. Setiap jurusan mempunyai penanggung jawab yang menjadi koordinir gerak da’wah jurusan. Fungsi kader ADK sebagai koordinator jurusan yaitu membuat peta kader dalam memasuki kerja da’wah jurusan misalnya menjadi asisten, menjadi pengurus di himpunan mahasiswa jurusan ( HMJ ), mengelola Study Club, English Club , Research Club dan koordinator asisten (KOAS). Harapan ini mampu mengkondisikan peran dan gerak kader da’wah dalam membangun kerja – kerja besar da’wah menuju masyarakat yang Islami.

Mari kita rapatkan barisan untuk membangun gerak da’wah menjadi nyata dan bermakna dengan kita setiap pribadi membangun da’wah mandiri dalam setiap gerak, dalam setiap ruang dan waktu. My is Muslim and Islam is My Choice.

 Tulisan saya ini diterbitkan dalam media da'wah online "BERSAMA DA'WAH"
Lihat di http://www.bersamadakwah.com/2012/05/dakwah-kampus-dalam-dimensi-ruang-dan.html
 






MUHASABAH HIDUP


Sebuah muhasabah dalam miladku pada Senin, 14 Rajab 1433 H. 

Untuk Allah SWT puji syukur atas segala nikmatNya,Rasulullah SAW yang membawa Islam yang cahayanya sampai menyinariku, untuk Bapak dan Ibu yang luar biasa dalam mendidikku, sahabatku yang selalu memotivasi dalam ikatan ukhuwah dan dekapan  Rabithoh

Bismillahirrahmanirrahim…

Syukur Alhamdulillah, sampai hari ini Engkau telah memberikan hambaMu ini napas yang panjang dalam setiap alunan menit, detik bahkan lebih sampai femtosekon masih Engkau berikan kepada hambaMu ini Ya Allah. Saat ini dan detik inilah seperempat abad Engkau masih memberikan hak umur kepada hambaMu ini yang masih banyak berlumur dosa kepadaMu, namun Engkau masih tetap sayang dan mencintai hambaMu ini Ya Rabbi.

Engkau lah yang membangunkan hamba ini sepertiga malam, menyiramkan air wudhu dan menghadap wajah suciMu. Terima kasih Ya Allah atas segala nikmatMu yang telah Engkau berikan kepada hambaMu ini Ya Allah. Berikanlah hambaMu ini rasa ikhlas dalam beramal menuju kerihoanMu.

Sebagaimana Syaikh Yusuf Al-Qaradhawy mengatakan :
Sebuah amal dari amal-amal hati, tetapi ikhlash merupakan amal hati yang pertama-tama, karena sesungguhnya diterimanya amal-amal itu tidak akan sempurna kecuali dengan ikhlas.Buah dari buah-buah tauhid yang sempurna karena Allah Tabaraka wa Ta’ala yaitu dengan menyendirikan Allah Azza wa Jalla dengan ibadah dan memohon pertolongan.”

Allah SWT berfirman :
Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku, hanyalah untuk Allah, Tuhan Semesta Alam.” (Al An’am 162)

Sementara itu Hasan al-Banna memberikan definisi tentang ikhlash yaitu:

Yaitu setiap al-akh muslim meniatkan dengan perkataannya, perbuatannya dan jihadnya seluruhnya hanya untuk Wajah Allah, mengharap keridhaanNya dan kebaikan ganjaranNya, tanpa melihat kepada harta atau kemasyhuran atau kedudukan atau pangkat atau kemajuan atau kemunduran. Dan dengan demikian ia pejuang fikrah dan aqidah, bukan pejuang kepentingan dan kemanfaatan.”
Ada sebuah hadits shahih mutawatir masyhur yang berkaitan dengan masalah ikhlash dalam niat ini. 

Rasulullah SAW bersabda:
Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khaththab radhiyallahu anhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :  Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya.  Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan. (HR Bukhari-Muslim).

Begitu pentingnya masalah ikhlash ini, sampai-sampai Imam Nawawi rahimahullah meletakkan hadits di atas pada hadits pertama dalam kitab beliau Al-Arba’in An-Nawawiyyah dan Riyadhush Shalihin. Demikian pula Syaikh Fuad Abdul Baqi menempatkannya sebagai hadits di bagian awal dalam kitab beliau Al-Lu’lu’ wal-Marjan, yang merupakan kompilasi hadits yang disepakati oleh Imam Bukhari dan Muslim. Imam Asy-Syafi’i berkata, “Hadits ini adalah sepertiga ilmu“.

Sebuah atsar yang masyhur dari Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullahu menegaskan akan pentingnya dua syarat diterimanya amal, yaitu ikhlash dan shawab (sesuai dengan sunnah). Beliau berkata:

Sesungguhnya amal itu apabila ikhlas tetapi tidak shawab maka tidak akan diterima. Dan jika shawab tetapi tidak ikhlash maka juga tidak akan diterima, hingga terdapat ikhlash dan shawab. Dan ikhlash itu adalah karena Allah dan shawab itu sesuai dengan sunnah.”

Setelah itu, Fudhail bin ‘Iyadh membaca ayat:
“…Maka barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (Al Kahfi 110).

Penyimpangan amal terjadi ketika niat tidak lagi ikhlas. Keinginan untuk dilihat orang lain atau pamer amal dinamakan dengan riya’. Sedangkan rasa ingin didengar orang lain disebut sebagai sum’ah. Baik riya’ maupun sum’ah adalah dua penyakit yang sangat berbahaya. Riya’ bahkan dikatakan sebagai asy-syirk al-ashghar (syirik kecil), sebab pahala amal yang disertai riya’ akan musnah. Rasulullah SAW bersabda:
Sesungguhnya yang paling takutkan atas kalian adalah syirik kecil. Para sahabat bertanya, apakah syirik kecil itu wahai Rasulallah? Rasulullah menjawab: Riya’.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad jayyid dan Ibnu Abi Dunya)

Bahkan pelaku riya’ diancam dengan azab besar di neraka. Na’udzubillahi min dzalik. Sebuah hadits shahih berikut ini sangat penting untuk menjadi renungan kita bersama.

Dari Abu Hurairah yang berkata, saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat adalah seseorang yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan kemudian ditampakkan kepadanya nikmat-nikmat yang diberikan kepadanya maka dia pun mengakuinya. Allah bertanya, “Apa yang kamu lakukan dengannya?” Dia menjawab, “Aku berperang untuk-Mu sampai aku mati syahid.” Allah berfirman, “Engkau dusta, sebenarnya engkau berperang karena ingin disebut sebagai pemberani. Dan itu sudah kau dapatkan.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya tertelungkup di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka. 

Kemudian seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya dan juga membaca Al Quran. Dia didatangkan kemudian ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sudah didapatkannya dan dia pun mengakuinya. Allah bertanya, “Apakah yang sudah kau perbuat dengannya ?” Maka dia menjawab, “Aku menuntut ilmu, mengajarkannya dan membaca Al Quran karena-Mu.” Allah berfirman, ”Engkau dusta, sebenarnya engkau menuntut ilmu supaya disebut orang alim. Engkau membaca Quran supaya disebut sebagai Qari’.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya tertelungkup di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka

Kemudian ada seseorang yang telah mendapatkan anugerah kelapangan harta. Dia didatangkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang diperolehnya. Maka dia pun mengakuinya. Allah bertanya, “Apakah yang sudah kamu perbuat dengannya?” Dia menjawab, “Tidaklah aku tinggalkan suatu kesempatan untuk menginfakkan harta di jalan-Mu kecuali aku telah infakkan hartaku untuk-Mu.” Allah berfirman, “Engkau dusta, sebenarnya engkau lakukan itu demi mendapatkan julukan orang yang dermawan, dan engkau sudah memperolehnya.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya tertelungkup di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.

(Diriwayatkan oleh Muslim dan Nasai, dan diriwayatkan oleh Tirmidzi dan ia menghasankannya, dan diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam shahihnya)
Kurang apalagi kebaikan orang yang berjihad, mempelajari dan mengajarkan ilmu, membaca Al Quran dan suka berinfaq. Namun kebaikan itu musnah di sisi Allah SWT manakala orientasi amal tersebut karena mengharap pujian manusia, bukan pujian Allah SWT. Dengan demikian, penting sekali buat kita untuk selalu menata dan memperhatikan niat setiap melakukan amal kebajikan.

Selain itu, yang merusak iman bisa jadi kemasyuran dan pujian yang berlebihan.Cukuplah Allah SWT sebagai Dzat yang memuji. Mereka berpandangan, pujian dari manusia dapat melengahkan dan melenakan diri sehingga amal perbuatan tidak lagi ikhlash karena Allah.
Ibn Muhairiz berkata kepada orang yang meminta nasihat kepadanya, “Jika bisa, hendaklah engkau mengenal tetapi tidak dikenal, berjalanlah sendiri dan jangan mau diikuti, bertanyalah dan jangan ditanya. Lakukanlah hal ini.”
Bisyr al-Hafi berkata, “Saya tidak mengenal orang yang suka kemasyhuran melainkan agama menjadi sirna dan dia menjadi hina. Tidak akan merasakan manisnya kehidupan akhirat, orang yang suka terkenal di tengah manusia”.

Fudhail bin Iyadh berkata, ”Jika engkau sanggup untuk tidak dikenal, maka lakukanlah. Apa sukarnya engkau tidak dikenal? Apa sukarnya engkau tidak disanjung-sanjung? Tidak mengapa engkau tercela di hadapan manusia selagi engkau terpuji di sisi Allah.”
Bagi aktivis da’wah, popularitas dan pujian dari manusia dapat merubah orientasi da’wah seseorang. Dari da’wah karena Allah, menjadi da’wah untuk mencari popularitas. Dari da’wah untuk mendapatkan pujian Allah, menjadi da’wah untuk mendapatkan pujian manusia.
Sebenarnya, popularitas dan kemasyhuran itu tidaklah jelek. Para Nabi, Khulafa ar-Rasyidin dan para Imam adalah orang yang dikenal manusia. Ungkapan salafush shalih tersebut bukanlah ajakan untuk ber’uzlah. Tetapi yang tercela adalah mencari kemasyhuran dan kedudukan, serta sangat bercita-cita untuk mendapatkannya.

Beramal Secara Diam-diam
Amal yang dilakukan diam-diam berpeluang lebih selamat dari riya’ dibandingkan dengan amal secara terbuka. Allah SWT berfirman:
Jika kalian menampakkan sedekah kalian maka itu adalah baik sekali. Dan jika kalian menyembunyikannya dan kalian berikan kepada orang-orang fakir maka menyembunyikanya itu lebih baik bagi kalian. Dan Allah akan menghapuskan dari kalian sebagian kesalahan-kesalahan kalian, dan Allah maha mengetahui apa yang kalian kerjakan” (QS. Al-Baqoroh: 271).

Para ulama menjelaskan tentang keutamaan menyembunyikan amal kebajikan (karena hal ini lebih menjauhkan dari riya) itu hanya khusus bagi amalan-amalan mustahab bukan amalan-amalan yang wajib. Sedekah yang wajib secara terang-terangan lebih afdhol daripada secara tersembunyi. Adapun sedekah yang mustahab maka sebaliknya.” Sebagian mereka juga mengecualikan orang-orang yang merupakan teladan bagi masyarakat, maka justru lebih afdhol bagi mereka untuk beramal terang-terangan agar bisa diikuti dengan syarat mereka aman dari riya’, dan hal ini tidaklah mungkin kecuali jika iman dan keyakinan mereka yang kuat.

Secara khusus ada keuntungan bagi orang-orang yang “hidden”. Dalam hadits Mu’adz, Rasulullah SAW bersabda:

Sesungguhnya Allah SWT menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan, bertaqwa dan yang menyembunyikan amalnya. Yaitu orang-orang yang jika tidak hadir mereka tidak dicari, dan jika hadir mereka tidak dikenal. Hati mereka adalah pelita petunjuk. Mereka keluar dari setiap tempat yang gelap.”

Sabar dalam Berda’wah

Allah SWT memberikan ilustrasi berupa kisah Nabi Nuh AS yang begitu sabar berda’wah selama 950 tahun (Al Ankabut 14). Nabi Nuh selalu berda’wah siang dan malam tanpa kenal lelah (Nuh 5). Beliau juga menggunakan berbagai metode, baik sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan (Nuh 8-9). Bahkan keluarganyapun juga tidak menyambut ajaran beliau. Kesabaran beliau ditunjukkan ketika mendapatkan wahyu Allah SWT untuk membuat kapal (Al Mu’minuun 27-28) dimana orang-orang kafir mengejek  Nabi Nuh dan para pengikut beliau (Hud 11).

Kesabaran dalam berda’wah berbanding lurus dengan keikhlasan. Orang-orang yang ikhlash selalu bersabar dalam menghadapi ujian dalam da’wah. Namun, terkadang ada orang-orang yang ingin segera cepat-cepat menikmati hasil da’wahnya. Perilaku yang disebut isti’jal, dilakukan oleh orang-orang yang mengubah tujuan da’wahnya, dari da’wah murni kepada Allah SWT menjadi da’wah yang berorientasi kepada hasil. Ketika sahabat Khubaib bin al-Arat menanyakan kapan datangnya pertolongan Allah, Rasulullah SAW menjawabnya dengan ilustrasi kisah orang pada zaman terdahulu yang tetap bersabar walaupun harus menerima ujian disisir dari sisir besi. Di akhir, Rasulullah mengatakan (ولكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُونَ) “Akan tetapi kalian tergesa-gesa.” (HR Bukhari)

Semoga dapat membawa umur ini menuju keberkahan dan kebarokahan menuju RidhoNya,sebuah persembahan puisi :

ALLAH, BERKAHILAH UMUR HAMBAMU

Perjalananku telah berlalu
Setengah abad telah ku lalui
Menapaki hidup telah kurasa
Betapa  asin rasa dunia ini

Allah…
Engkau berikan hamba umur
Namun, hamba belum bisa bersyukur
Engkau beri hamba rizki
Namun, belumlah hamba cari
Engkau beri hamba cinta
Namun, belum hamba rasa

Allah…
Betapa hidup hambaMu ini berlumur dosa
Selalu mendurhakaiMu
Hanya sesal yang hamba rasa
Hanya pilu yang menghantuiku

Allah…
Engkau beri hamba nikmat
Engkau beri hamba ilmu
Engkau beri hamba tahta
Engkau beri hamba umur
Jadikanlah hamba ini selalu bersyukur

Allah…
Terimalah taubat hambaMU
Berkahilah sisa umurku
Barokahilah umurku yang telah berlalu
Kuatkanlah pijakan hambaMu
Untuk meraih surgaMu

Delima ranum, indah pesona
Terpasang rapi dalam hati
Pesona  surga cinta
Membara dalam alunan nadi
Meraih bintang dalam juang
Meraih mimpi dalam prestasi

Semoga hamba mengingatMu
Hingga akhir hayatku
Hingga ukhuwah masuk bersamaku
Selalu menghujam dalam dadaku
Dalam dekapan tarbiyah dan harokahMU
Hingga kemenangan da’wah mengalir dalam darahku
Allah, berkahilah umurku….

        Oleh : Beni Saputra

 Versi PDF download  

REFERENSI: